Perayaan Hari Desa 2026 kembali menegaskan satu hal penting: digitalisasi desa tidak cukup hanya dicanangkan, tetapi harus dibuktikan di lapangan. Fakta bahwa 4 dari 6 desa pemenang Lomba Desa Digital merupakan pengguna OpenSID menjadi indikator kuat bahwa desa yang mandiri secara sistem justru lebih siap menghadapi tantangan transformasi digital.
Kegiatan yang secara nasional dibuka di Jakarta namun pelaksanaan lapangannya digelar di Desa Butuh, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, Kamis (15/1/2026), menyimpan pesan simbolik yang dalam. Pusat boleh merancang kebijakan, namun desa adalah ruang ujinya. Dan hasilnya jelas: desa yang mengelola data secara terbuka, rapi, dan konsisten mampu tampil unggul.
OpenSID bukan sekadar aplikasi, melainkan ekosistem. Ia tumbuh dari kebutuhan desa, dikembangkan secara kolaboratif, dan dijalankan dengan semangat kemandirian. Dalam konteks ini, dominasi desa pengguna OpenSID dalam ajang nasional menunjukkan bahwa inovasi berbasis komunitas mampu bersaing dengan sistem mahal dan tertutup.
Lebih jauh, capaian ini juga menjadi kritik halus terhadap pola digitalisasi yang kerap berorientasi proyek. Desa tidak membutuhkan aplikasi yang berganti setiap tahun, melainkan sistem yang berkelanjutan, dipahami oleh perangkat desa, dan benar-benar melayani warga.
Hari Desa 2026 seharusnya menjadi titik refleksi: bahwa masa depan desa digital tidak ditentukan oleh siapa yang paling mahal, tetapi siapa yang paling relevan dan berpihak pada kebutuhan rakyat desa.